Jumat, 28 Maret 2014


MENJEMPUT IMPIAN YANG TERTUNDA

Hmmmm…”IMPIAN” !!  hatiku tertegun jika berbicara mengenai hal yang satu ini, takutnya setengah mati jika membicarakannya apalagi melihat kenyataannya yang sungguh mengerikan bagiku. IMPIAN yang selama ini aku punya dan hampir seluruh jiwaku dibuatnya merana, karena ia tak kunjung berubah menjadi kenyataan, dan malah dengan setianya  hanya menjadi seonggok IMPIAN yang hanya tersimpan di otakku saja.


         Masa kecilku ditemani dengan sejuta IMPIAN, mungkin judul sebuah buku “Sang Pemimpi” milik penulis favoritku ANDREA HIRATA tepat dengan diriku. Sebuah impian yang lahir dari seorang perempuan kecil yang berasal dari sebuah “kampung” terpencil, di sebelah utara Tapanuli, Sumatera Utara, tepatnya di suatu desa sederhana namanya adalah “BORBOR’ ya ‘borbor” dan mungkin letak desaku ini tidak akan anda temui di google maps hehehehe,  namanya yang begitu unik yang belum pernah aku dengar dari sekian juta nama dimuka bumi ini, akan tetapi itulah desa ku, tanah kelahiranku, desa yang jauh dari kebisingan kota, desa yang begitu nyaman, dan desa itu juga ikut andil dalam melahirkan anak2 bangsa Indonesia dengan berjuta IMPIAN yang mereka bawa, dan mungkin salah satunya adalah “aku” yaaa aku.
Hanya saja aku tidak seberuntung mereka, yang punya IMPIAN yang sama dan lambat laun aku turut menyaksikan mimpi mereka sudah menjadi sesuatu yang nyata. Tidak seperti mimpiku yang asyik menggantung dan hanya menjadi bayang – bayang di hidupku. Impian yang terus melekat, dan mengikutiku seolah tidak mau pergi sebelum ia berubah menjadi” sesuatu” 
 Andai aku bisa berlari memutar waktu, mengulangnya kembali maka aku akan memperbaikinya semampuku. "Tapi apa dayaku ? semua diluar  kekuatanku, semua diluar batas kemampuanku. Tetapi betapa sadarnya aku ada yang lebih tau semua tentang impianku dan IA menyaksikan semua impianku yang akhir – akhir ini mulai kabur bahkan mungkin sudah mulai berlalu.
                Mengecap bangku kuliah memang sempat kurasakan, dan seperti teman- teman lainnya, aku sangat senang  dan sangat bergairah menjalani awal - awal masa pekuliahanku itu, meskipun pada akhirnya aku tidak lulus ke universitas negeri di kotaku. Tetapi yang kurasakan saat  itu adalah semangat yang meluap –  luap,  dengan semangat 45, atau mungkin jika ada satu tingkat lagi diatas semangat ‘45’ mungkin itulah “semangatku waktu itu. Waktu terus berjalan seperti biasanya, seolah tidak peduli denganku. Waktu yang berlari begitu jauh dan tampaknya begitu enggan menoleh kepadaku yang masih tetap diam terpaku.
               Dan pada awal memasuki semester II perkuliahanku, semua mulai berubah harapanku mulai pudar, impianku mulai buyar dan semangat 45 yang sempat kumiliki perlahan – lahan menipis bahkan berhasil menghantarkan aku ke titik terendah dalam hidupku. Hari hariku berubah kelam, mentari seolah enggan memperlihatkan wajahnya, dan bulanpun seakan tidak mau muncul dihadapanku, bahkan bintangpun terlihat begitu kejam  ikut serta menyempurnakan kesedihan yang kualami. ya itulah yang keadaanku saat itu. Semua mimpi yang aku bina dari sejak kecilku seolah direnggut oleh ketidak adilan, aku hanya bisa menyalahkan diriku, keadaanku, dan menyalahkan sang waktu yang tidak pernah berpihak untukku. Dan sampailah disatu hari,ketika aku mengetahui bahwa sosok yang aku sayangi dan sosok yang selama ini aku banggakan itu harus terkulai lemah dan seolah tak berdaya lagi mendampingiku untuk mewujudkan semua “IMPIAN” ku dan itulah pelengkap kerapuhanku. Tanpa sadar tetes – tetes air bening yang selalu keluar dari mata indahku berubah menjadi teman setia yang menemani hari – hariku, seolah – olah dia ikut meratapi semua kalut dalam hatiku.
             Dan akhirnya aku memutuskan untuk mulai mencari sebuah pekerjaan, setidaknya meringankan sedikit beban yang selama ini hanya bertengger di pundak ayahku dan ibuku, walaupun aku sadar semua usahaku itu tidak akan memberikan pengaruh yang berarti, namun aku tetap melakoninya. Dan akhirnya aku pun diterima bekerja disebuah supermarket di daerah jl.suparman Medan. Dari mulai pukul 09.00 s/d 17.00 sore,  dan aku sangat bersyukur mendapat pekerjaan itu. Pagi sampai sore aku bekerja dan malamnya aku masuk kuliah, beruntung sekali ditempat aku kuliah, ada kelas karyawannya, walau sering sekali aku ketinggalan mata kuliah tetapi itu tak menghalangiku untuk tetap bekerja. Waktu pun terus berjalan  dan masih tetap sama seperti biasanya ia tidak mau menungguku ia berlari begitu saja tanpa menghiraukan aku yang sedang tertatih mengejarnya, tak terasa masa trainingku pun berakhir dan itu artinya aku diterima menjadi salah satu karyawan tetap di supermarket yang terbilang elit dikota ku itu. Hari hari tetap aku jalani seperti biasa dan hampir tidak berbeda dari hari sebelumnya. Saban hari menggeluti hal yang sama, pagi hari diisi dengan bekerja dan malamnya  aku menjalani kuliah,,melelahkan sekali. Tetapi aku tetap bersemangat.
                Pada satu sore setelah seharian bekerja jam pun menunjukkan pukul 17.00 wib itu artinya akan segera pulang kerja, dan entah mengapa tubuhku rasanya begitu lemas sekali terasa sekali tenaga ini terkuras habis setelah bekerja seharian, dan aku memutuskan tidak masuk kuliah malam itu, setelah sampai ke kamar kost ku, aku langsung merebahkan tubuhku dan berharap mendapatkan satu kesegaran setelahnya. Pada saat aku sedang menikmati istirahatku yang sangat berarti itu, tiba- tiba seluruh perhatianku dialihkan oleh suara bising ternyata ponsel jadul ku berbunyi, dengan tanganku aku mulai meraih ponselku yang tergeletak disudut tempat tidurku. Hatiku bertanya – Tanya siapa gerangan yang berani menggangu istirahatku sore itu, dengan mata yang sedikit berat karna  menahan rasa kantuk,  aku melirik ponselku, aku tertegun saat aku tau yang menghubungiku sore itu adalah ibuku, rasa capek dan kantuk yang tadinya sempat menghinggapi ku, hilang dalam sekejap saat aku mendengar suara lembutnya mulai mendarat di telingaku, aku sangat rindu sekali pada wanita suci itu.
                Aku mulai menyimak semua kalimat yang diucapkanya,  dengan seksama aku coba mengerti setiap kata yang dikatakanya padaku tubuhku mulai kaku, bibirku kelu dan mulutku diam seribu bahasa dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Tetapi aku mencoba tenang dan mulai menghibur diriku  dan ternyata itulah awal dari semuanya, pikiranku berkecamuk, karena malam itu juga aku harus memutuskan  satu keputusan yang jelas jelas bertentangan dengan semua  yang kuharapakan. Kalimat ibuku kembali terngiang ditelingaku
Kalimat sederhana yang sarat makna “ nak ,,mamak gak mampu sendiri boleh tidak mamak bagi sedikit beban ini padamu” dengan logat batak yang sangat kental ibuku mengucapkan kalimat itu dan dengan hati yang sedikit lega aku memutuskan untuk menemani wanita tulus itu tak tega rasanya hati ini menolak semua permintaan wanita suci itu, aku sangat mengaguminya andaikata malaikat dapat kusejajarkan dengannya,,ya itulah “wanita tegar yang pernah ku kenal”
Dan dengan mantap  aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku, dengan sedikit berat kulangkahkan kakiku meninggalkan pekerjaanku dan kuliahku dan mulai melupakan setiap impian- impianku yang terlalu tinggi dan terbilang  tidak masuk akal, mimpi yang sudah pernah kurajut dan kususun sangat rapi dibenakku, dan yang kupikirkan saat itu hanyalah “kesehatan ayahku dan kebahagiaan ibuku walau aku tahu betul kalau wanita itu tidak bahagia melihat anak bungsunya harus menghentikan pendidikannya, aku tau dia sangat tersiksa sebelum ia meminta itu kepadaku. tetapi tak sedikitpun terbersit dibenakku menambah kepedihan hatinya. Hari berganti hari dan seperti biasanya sang waktu telah pergi jauh dan dengan gesit berlalu meninggalkanku yang sedang merajut asa, semua kulalui dengan ikhlas hati dan mulai mencurahkan seluruh perhatianku sepenuhnya kepada sosok yang kukagumi itu, satu pribadi yang tidak pernah menyakitiku ya…dia ayahku.
                Satu tahun sudah aku menemaninya, tiap malam aku dan ibuku melaluinya dengan rasa takut, takut kehilangan ayahku malam  itu tetapi Tuhan masih memberikan dia kesempatan hidup walaupun tidak begitu panjang, dan akhirnya tepat hari kamis sore hari di tanggal 14 april 2008 ayahku menghembuskan nafas terakhirnya, seolah tidak percaya karena hari itu dia begitu tampak sehat dan di hari terakhirnya itu aku dipaksa untuk bernyanyi sebelum dia meninggal, aku tidak punya firasat sedikitpun, ternyata salah satu lagu kesukaanya yang sempat kulantunkan di sampingnya menghantarnya kepada ketenangan abadi,, duniaku serasa berhenti, aku ingin meraung tetapi air mataku sulit rasanya untuk menetes tidak tau mengapa tapi yang jelas tenggorokanku sakit sekali,dan ternyata setelah kusadar airmataku sudah mulai mengering mungkin karena sering menangis. Dan hujanpun turun mengguyur desaku sore itu, seakan –akan ikut meratapi kepergiannya. Pikiranku mulai buyar semangatku kembali sirna. Yang ada dibenakku hanya satu ‘Tuhan  tidak adil padaku, dan aku merasa Tuhan juga ikut pergi meninggalkanku, tetapi apa dayaku aku hanyalah seonggok daging yang tak mampu merubah kuasaNYA , aku belajar ikhlas walau sangat berat bagiku untuk jauh darinya,,perpisahan memang menyebalkan ! aku hanya bisa berdoa dan meratapi kepergiannya dan berharap Tuhan memberikanku satu kekuatan dari sisa – sisa kekuatanku untuk tetap bertahan mengahadapi hal –hal yang tidak bisa kuubah dengan tanganku yang lemah ini.
                Selang berjalannya waktu aku kembali mencoba menapaki kehidupanku, kembali kulangkahkan kakiku yang sempat terhenti rasanya  ingin masuk ke dalam mimpi dan tinggal disana selamanya, tetapi aku tidak bisa mengelaknya inilah hidup, hidup dalam kenyataan bukan dalam bayang – bayang, dan dengan kepala yang terangkat aku mulai mengumpulkan sisa – sisa kekuatanku dan kembali merapikan puing –puing semangatku yang sudah berantakan dan nyaris tak bersisa, tetapi dengan dukungan ibuku aku mampu melewati semua badai dalam hidupku, meskipun dalam waktu yang lama aku berada dalam lubang keterpurukan, benar kata ibuku dunia ini memang lembah airmata.
Seklumit kisah hidup yang mampu menghantarkanku kepada satu ketegaran, dan aku sadari Tuhan begitu mengasihiku dan masih tetap bersamaku, hanya saja aku tdak pernah sadar akan keberadaanya yang sangat luar biasa, dan itulah  alasan mengapa aku masih tetap berdiri hingga sekarang dan tetap berani hidup, dan andai saja seisi laut adalah tinta dan seluruh cakrawala adalah kertasnya, itu semua tidak akan mampu melukiskan betapa dalamnya, tinnginya, dan luasnya kasih sayang Tuhan dalam hidupku, kalau mungkin tidak ada Tuhan mungkin aku sudah berada dalam barisan orang – orang yang putus asa dan tak berpengharapan, dilembah keterpurukanku sekalipun Dia tetap menunjjukkan cintaNya.  Dan kasihNya itu mampu merubah cara pandangku tentang “arti kehidupan” 
Kaki harus terus berjalan dan berlari bila perlu,  selamat bertemu kembali  denganmu “hai impianku yang sempat tertunda” aku kembali lagi menata impianku aku tidak akan membiarkannya terkubur dan sampai membusuk, impianku harus kuperjuangkan kembali, tidak akan kulepas lagi, banyak hal yang harus kupertaruhkan untuk semua impianku. dan inilah pandanganku tentang IMPIAN.
·        Impian , jika hanya dipendam saja itu hanya menjadi lamunan disiang bolong yang tidak akan pernah berubah menjadi apapun jika aku tidak berani memulainya.
·        Impian , jika tidak dipertahankan atau diperjuangkan ia  hanya akan menjadi timbunan-timbunan dari pikiran yang tidak jelas kemana akan bermuara.
·        Impian, jika hanya berpangku tangan ia akan berubah jadi kenyataan dari “mimpi burukmu” selama ini
Aku mulai mengerjakan impianku ,mungkin dengan berani “menulis” ini aku sudah memulai langkah awalku untuk meraih semua mimpi mimpiku, kejar terus impianmu, tidak peduli mimpimu kecil ataupun besar yang terpenting adalah beranilah “mengerjakan mimpimu itu, jangan berhenti, sampai impianmu menjadi “SESUATU”. Jangan tunggu, segeralah… KERJAKANLAH IMPIANMU !!

Tentang penulis : Terkadang banyak hal yang tidak bisa diucapkan dengan mulut ini, tetapi dengan menulis semua pengalaman ini, mampu mewakili semua apa yang kualami dalam hidupku. Ini kisahku.




                                                                        Salam penulis :



Pesta.Pangaribuan