MENJEMPUT
IMPIAN YANG TERTUNDA
Hmmmm…”IMPIAN” !! hatiku tertegun jika berbicara mengenai hal
yang satu ini, takutnya setengah mati jika membicarakannya apalagi melihat
kenyataannya yang sungguh mengerikan bagiku. IMPIAN yang selama ini aku punya
dan hampir seluruh jiwaku dibuatnya merana, karena ia tak kunjung berubah
menjadi kenyataan, dan malah dengan setianya hanya menjadi seonggok IMPIAN yang hanya
tersimpan di otakku saja.
![]() |
Masa
kecilku ditemani dengan sejuta IMPIAN, mungkin judul sebuah buku “Sang Pemimpi”
milik penulis favoritku ANDREA HIRATA tepat dengan diriku. Sebuah impian yang
lahir dari seorang perempuan kecil yang berasal dari sebuah “kampung”
terpencil, di sebelah utara Tapanuli, Sumatera Utara, tepatnya di suatu desa
sederhana namanya adalah “BORBOR’ ya ‘borbor” dan mungkin letak desaku ini
tidak akan anda temui di google maps hehehehe, namanya
yang begitu unik yang belum pernah aku dengar dari sekian juta nama dimuka bumi
ini, akan tetapi itulah desa ku, tanah kelahiranku, desa yang jauh dari
kebisingan kota, desa yang begitu nyaman, dan desa itu juga ikut andil dalam
melahirkan anak2 bangsa Indonesia dengan berjuta IMPIAN yang mereka bawa, dan
mungkin salah satunya adalah “aku” yaaa aku.
Hanya saja aku tidak seberuntung mereka, yang punya IMPIAN
yang sama dan lambat laun aku turut menyaksikan mimpi mereka sudah menjadi
sesuatu yang nyata. Tidak seperti mimpiku yang asyik menggantung dan hanya
menjadi bayang – bayang di hidupku. Impian yang terus melekat, dan mengikutiku
seolah tidak mau pergi sebelum ia berubah menjadi” sesuatu”
Andai aku bisa berlari memutar waktu, mengulangnya kembali maka aku akan memperbaikinya semampuku. "Tapi apa dayaku ? semua diluar kekuatanku, semua diluar batas kemampuanku. Tetapi betapa sadarnya aku ada yang lebih tau semua tentang impianku dan IA menyaksikan semua impianku yang akhir – akhir ini mulai kabur bahkan mungkin sudah mulai berlalu.
Andai aku bisa berlari memutar waktu, mengulangnya kembali maka aku akan memperbaikinya semampuku. "Tapi apa dayaku ? semua diluar kekuatanku, semua diluar batas kemampuanku. Tetapi betapa sadarnya aku ada yang lebih tau semua tentang impianku dan IA menyaksikan semua impianku yang akhir – akhir ini mulai kabur bahkan mungkin sudah mulai berlalu.
Mengecap
bangku kuliah memang sempat kurasakan, dan seperti teman- teman lainnya, aku
sangat senang dan sangat bergairah
menjalani awal - awal masa pekuliahanku itu, meskipun pada akhirnya aku tidak
lulus ke universitas negeri di kotaku. Tetapi yang kurasakan saat itu adalah semangat yang meluap – luap, dengan semangat 45, atau mungkin jika ada
satu tingkat lagi diatas semangat ‘45’ mungkin itulah “semangatku waktu itu.
Waktu terus berjalan seperti biasanya, seolah tidak peduli denganku. Waktu yang
berlari begitu jauh dan tampaknya begitu enggan menoleh kepadaku yang masih
tetap diam terpaku.
Dan pada awal memasuki semester II perkuliahanku, semua mulai
berubah harapanku mulai pudar, impianku mulai buyar dan semangat 45 yang sempat
kumiliki perlahan – lahan menipis bahkan berhasil menghantarkan aku ke titik
terendah dalam hidupku. Hari hariku berubah kelam, mentari seolah enggan
memperlihatkan wajahnya, dan bulanpun seakan tidak mau muncul dihadapanku,
bahkan bintangpun terlihat begitu kejam
ikut serta menyempurnakan kesedihan yang kualami. ya itulah yang
keadaanku saat itu. Semua mimpi yang aku bina dari sejak kecilku seolah direnggut
oleh ketidak adilan, aku hanya bisa menyalahkan diriku, keadaanku, dan
menyalahkan sang waktu yang tidak pernah berpihak untukku. Dan sampailah disatu
hari,ketika aku mengetahui bahwa sosok yang aku sayangi dan sosok yang selama
ini aku banggakan itu harus terkulai lemah dan seolah tak berdaya lagi
mendampingiku untuk mewujudkan semua “IMPIAN” ku dan itulah pelengkap
kerapuhanku. Tanpa sadar tetes – tetes air bening yang selalu keluar dari mata
indahku berubah menjadi teman setia yang menemani hari – hariku, seolah – olah
dia ikut meratapi semua kalut dalam hatiku.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk mulai mencari sebuah
pekerjaan, setidaknya meringankan sedikit beban yang selama ini hanya
bertengger di pundak ayahku dan ibuku, walaupun aku sadar semua usahaku itu
tidak akan memberikan pengaruh yang berarti, namun aku tetap melakoninya. Dan
akhirnya aku pun diterima bekerja disebuah supermarket di daerah jl.suparman
Medan. Dari mulai pukul 09.00 s/d 17.00 sore, dan aku sangat bersyukur mendapat pekerjaan
itu. Pagi sampai sore aku bekerja dan malamnya aku masuk kuliah, beruntung
sekali ditempat aku kuliah, ada kelas karyawannya, walau sering sekali aku
ketinggalan mata kuliah tetapi itu tak menghalangiku untuk tetap bekerja. Waktu
pun terus berjalan dan masih tetap sama
seperti biasanya ia tidak mau menungguku ia berlari begitu saja tanpa
menghiraukan aku yang sedang tertatih mengejarnya, tak terasa masa trainingku
pun berakhir dan itu artinya aku diterima menjadi salah satu karyawan tetap di
supermarket yang terbilang elit dikota ku itu. Hari hari tetap aku jalani
seperti biasa dan hampir tidak berbeda dari hari sebelumnya. Saban hari
menggeluti hal yang sama, pagi hari diisi dengan bekerja dan malamnya aku menjalani kuliah,,melelahkan sekali.
Tetapi aku tetap bersemangat.
Pada satu
sore setelah seharian bekerja jam pun menunjukkan pukul 17.00 wib itu artinya
akan segera pulang kerja, dan entah mengapa tubuhku rasanya begitu lemas sekali
terasa sekali tenaga ini terkuras habis setelah bekerja seharian, dan aku
memutuskan tidak masuk kuliah malam itu, setelah sampai ke kamar kost ku, aku
langsung merebahkan tubuhku dan berharap mendapatkan satu kesegaran setelahnya.
Pada saat aku sedang menikmati istirahatku yang sangat berarti itu, tiba- tiba
seluruh perhatianku dialihkan oleh suara bising ternyata ponsel jadul ku
berbunyi, dengan tanganku aku mulai meraih ponselku yang tergeletak disudut
tempat tidurku. Hatiku bertanya – Tanya siapa gerangan yang berani menggangu
istirahatku sore itu, dengan mata yang sedikit berat karna menahan rasa kantuk, aku melirik ponselku, aku tertegun saat aku
tau yang menghubungiku sore itu adalah ibuku, rasa capek dan kantuk yang
tadinya sempat menghinggapi ku, hilang dalam sekejap saat aku mendengar suara
lembutnya mulai mendarat di telingaku, aku sangat rindu sekali pada wanita suci
itu.
Aku mulai
menyimak semua kalimat yang diucapkanya, dengan seksama aku coba mengerti setiap kata
yang dikatakanya padaku tubuhku mulai kaku, bibirku kelu dan mulutku diam
seribu bahasa dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Tetapi aku mencoba
tenang dan mulai menghibur diriku dan
ternyata itulah awal dari semuanya, pikiranku berkecamuk, karena malam itu juga
aku harus memutuskan satu keputusan yang
jelas jelas bertentangan dengan semua
yang kuharapakan. Kalimat ibuku kembali terngiang ditelingaku
Kalimat sederhana yang sarat makna “ nak ,,mamak gak mampu
sendiri boleh tidak mamak bagi sedikit beban ini padamu” dengan logat batak
yang sangat kental ibuku mengucapkan kalimat itu dan dengan hati yang sedikit
lega aku memutuskan untuk menemani wanita tulus itu tak tega rasanya hati ini
menolak semua permintaan wanita suci itu, aku sangat mengaguminya andaikata
malaikat dapat kusejajarkan dengannya,,ya itulah “wanita tegar yang pernah ku
kenal”
Dan dengan mantap aku
memutuskan berhenti dari pekerjaanku, dengan sedikit berat kulangkahkan kakiku
meninggalkan pekerjaanku dan kuliahku dan mulai melupakan setiap impian-
impianku yang terlalu tinggi dan terbilang
tidak masuk akal, mimpi yang sudah pernah kurajut dan kususun sangat
rapi dibenakku, dan yang kupikirkan saat itu hanyalah “kesehatan ayahku dan
kebahagiaan ibuku walau aku tahu betul kalau wanita itu tidak bahagia melihat
anak bungsunya harus menghentikan pendidikannya, aku tau dia sangat tersiksa
sebelum ia meminta itu kepadaku. tetapi tak sedikitpun terbersit dibenakku
menambah kepedihan hatinya. Hari berganti hari dan seperti biasanya sang waktu
telah pergi jauh dan dengan gesit berlalu meninggalkanku yang sedang merajut
asa, semua kulalui dengan ikhlas hati dan mulai mencurahkan seluruh perhatianku
sepenuhnya kepada sosok yang kukagumi itu, satu pribadi yang tidak pernah
menyakitiku ya…dia ayahku.
Satu
tahun sudah aku menemaninya, tiap malam aku dan ibuku melaluinya dengan rasa
takut, takut kehilangan ayahku malam itu
tetapi Tuhan masih memberikan dia kesempatan hidup walaupun tidak begitu
panjang, dan akhirnya tepat hari kamis sore hari di tanggal 14 april 2008
ayahku menghembuskan nafas terakhirnya, seolah tidak percaya karena hari itu
dia begitu tampak sehat dan di hari terakhirnya itu aku dipaksa untuk bernyanyi
sebelum dia meninggal, aku tidak punya firasat sedikitpun, ternyata salah satu
lagu kesukaanya yang sempat kulantunkan di sampingnya menghantarnya kepada
ketenangan abadi,, duniaku serasa berhenti, aku ingin meraung tetapi air mataku
sulit rasanya untuk menetes tidak tau mengapa tapi yang jelas tenggorokanku
sakit sekali,dan ternyata setelah kusadar airmataku sudah mulai mengering
mungkin karena sering menangis. Dan hujanpun turun mengguyur desaku sore itu, seakan
–akan ikut meratapi kepergiannya. Pikiranku mulai buyar semangatku kembali
sirna. Yang ada dibenakku hanya satu ‘Tuhan tidak adil padaku, dan aku merasa Tuhan juga
ikut pergi meninggalkanku, tetapi apa dayaku aku hanyalah seonggok daging yang
tak mampu merubah kuasaNYA , aku belajar ikhlas walau sangat berat bagiku untuk
jauh darinya,,perpisahan memang menyebalkan ! aku hanya bisa berdoa dan
meratapi kepergiannya dan berharap Tuhan memberikanku satu kekuatan dari sisa –
sisa kekuatanku untuk tetap bertahan mengahadapi hal –hal yang tidak bisa
kuubah dengan tanganku yang lemah ini.
Selang
berjalannya waktu aku kembali mencoba menapaki kehidupanku, kembali
kulangkahkan kakiku yang sempat terhenti rasanya ingin masuk ke dalam mimpi dan tinggal disana
selamanya, tetapi aku tidak bisa mengelaknya inilah hidup, hidup dalam
kenyataan bukan dalam bayang – bayang, dan dengan kepala yang terangkat aku
mulai mengumpulkan sisa – sisa kekuatanku dan kembali merapikan puing –puing
semangatku yang sudah berantakan dan nyaris tak bersisa, tetapi dengan dukungan
ibuku aku mampu melewati semua badai dalam hidupku, meskipun dalam waktu yang
lama aku berada dalam lubang keterpurukan, benar kata ibuku dunia ini memang
lembah airmata.
Seklumit kisah hidup yang mampu menghantarkanku kepada satu
ketegaran, dan aku sadari Tuhan begitu mengasihiku dan masih tetap bersamaku,
hanya saja aku tdak pernah sadar akan keberadaanya yang sangat luar biasa, dan
itulah alasan mengapa aku masih tetap
berdiri hingga sekarang dan tetap berani hidup, dan andai saja seisi laut
adalah tinta dan seluruh cakrawala adalah kertasnya, itu semua tidak akan mampu
melukiskan betapa dalamnya, tinnginya, dan luasnya kasih sayang Tuhan dalam
hidupku, kalau mungkin tidak ada Tuhan mungkin aku sudah berada dalam barisan
orang – orang yang putus asa dan tak berpengharapan, dilembah keterpurukanku
sekalipun Dia tetap menunjjukkan cintaNya.
Dan kasihNya itu mampu merubah cara pandangku tentang “arti
kehidupan”
Kaki harus terus berjalan dan berlari bila perlu, selamat bertemu kembali denganmu “hai impianku yang sempat tertunda”
aku kembali lagi menata impianku aku tidak akan membiarkannya terkubur dan
sampai membusuk, impianku harus kuperjuangkan kembali, tidak akan kulepas lagi,
banyak hal yang harus kupertaruhkan untuk semua impianku. dan inilah
pandanganku tentang IMPIAN.
·
Impian , jika hanya dipendam saja itu hanya
menjadi lamunan disiang bolong yang tidak akan pernah berubah menjadi apapun
jika aku tidak berani memulainya.
·
Impian , jika tidak dipertahankan atau
diperjuangkan ia hanya akan menjadi
timbunan-timbunan dari pikiran yang tidak jelas kemana akan bermuara.
·
Impian, jika hanya berpangku tangan ia akan
berubah jadi kenyataan dari “mimpi burukmu” selama ini
Aku mulai mengerjakan impianku ,mungkin dengan berani
“menulis” ini aku sudah memulai langkah awalku untuk meraih semua mimpi
mimpiku, kejar terus impianmu, tidak peduli mimpimu kecil ataupun besar yang
terpenting adalah beranilah “mengerjakan mimpimu itu, jangan berhenti, sampai
impianmu menjadi “SESUATU”. Jangan tunggu, segeralah… KERJAKANLAH IMPIANMU !!
Tentang penulis : Terkadang banyak hal yang tidak bisa diucapkan dengan mulut ini, tetapi dengan menulis semua pengalaman ini, mampu mewakili semua apa yang kualami dalam hidupku. Ini kisahku.
Pesta.Pangaribuan

