Minggu, 20 April 2014

KARTINI - DISEKITAR KITA



"DIA MULAI RENTA TAPI TETAP JELITA"


Sore itu seolah tidak bosan hujan kembali mengguyur, sudah berminggu - minggu dia tetap turun membasahi bumi, akan tetapi tidak setetespun darinya yang mampu mengurungkan niatku untuk menemuinya sore itu. kaki melangkah terus menapaki jalan - jalan yang penuh dengan genangan air hujan sore itu. tetapi tetap aku syukuri nikmat sang maha Kuasa itu. Tidak butuh waktu yang lama untuk menempuh perjalanku  kepergian yang selalu ku tunda - tunda , terlalu egois memang tak menyempatkan waktu untuk menemuinya, setelah detik - detik yang sangat sulit dijalani olehnya, mengalami kritis selama seminggu lebih karena penyakit yang tiba - tiba menghampirinya, dan tentunya keadaan ini yang sangat tidak diinginkannya.
            Dulu dia begitu tegap, begitu sigap, sayangnya dia terlalu cepat menerima kenyataan yang pahit           ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dicintainya membuatnya sedikit rapuh, dan aku yakin dia sangat berharap pada suaminya untuk mendampinginya sampai masa tuanya , tetapi Tuhan berkata lain, diusia pernikahan yang masih muda dia harus menelan kenyataan pahit ditinggal oleh suami yang sangat dikasihinya, ayah dari anak – anaknya.
Waktu demi waktu yang terus bergulir dengan tangannya dia membesarkan anak – anak yang berjumlah 7 orang, dan tentu semuanya itu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan yang selalu menopangnya dan keluarganya,,dulu dia kelihatan sangat kuat, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang laki – laki, tak segan ia lakukan semua demi malaikat – malaikat kecil yang Tuhan amanatkan kepadanya, mungkin dialah wanita tangguh kedua yang pernah kukenal setelah ibuku.
Malam itu akhirnya aku bertemu lagi dengannya setelah beberapa lama tidak pernah bertemu, dan pada hari sabtu malam aku berangkat dari Bandung menuju kota Karawang dan akhirnya malam itu aku tiba disebuah rumah yang tidak asing bagiku, rumah anaknya yang paling tua, aku sengaja masuk tanpa pamit aku segera menemuinya wanita itu, sepertinya dia tidak begitu mengenaliku karena dia sedang asyik menikmati suguhan televisi, aku tersenyum padanya, dia melihatku dan memelukku seraya menangis, aku berusaha tertawa sambil menahan airmataku.
Dan yang paling membuatku terpukul setelah mengetahui bahwa sakit yang dialaminya membuatnya sulit untuk berbicara, aku tidak tau harus bagaimana, terkadang dia mencoba mengajakku berbicara tetapi aku sedikit kesulitan mengerti apa yang dia bicarakan seolah tidak mau menyinggung perasaaanya, aku mencoba memahami karena aku sangat yakin hatinya berbicara. Dulu waktu aku masih kecil kalau bertemu dengannya kita bicara banyak, tapi sekarang aku tidak bisa menikmati masa -  masa itu lagi, dia hanya tersenyum dan tertawa, setidaknya itulah bahasa yang aku bisa mengerti darinya, “bahasa kasih “ seorang wanita tulus untuk anak – anaknya.
Kini diapun semakin dimakan usia, kekuatanya sudah berkurang, bahu yang dulu tegap kini mulai tampak lemah, yang tersisa hanyalah harapannya, kekuatanya adalah anak –anaknya, ditambah dengan kehadiran pahoppu ( sebutan cucu untuk suku batak) yang menjadi pelengkap sukacitanya saat ini, meski sudah kelihatan dimakan usia tapi dia tetap jelita, dan aku terlalu percaya dan sangat yakin kalau Tuhan pasti menyempurnakan kesehatannya karena dia punya alasan untuk tetap bertahan untuk menikmati semua keindahan hidup dimasa tuanya,   yaitu anak  dan cucu – cucu nya. 


 Dedicated just for you bou,,we love you
S. Pangaribuan








Tidak ada komentar:

Posting Komentar