"DIA MULAI RENTA TAPI
TETAP JELITA"
Sore itu seolah tidak bosan
hujan kembali mengguyur, sudah berminggu - minggu dia tetap turun membasahi
bumi, akan tetapi tidak setetespun darinya yang mampu mengurungkan niatku untuk
menemuinya sore itu. kaki melangkah terus menapaki jalan - jalan yang penuh
dengan genangan air hujan sore itu. tetapi tetap aku syukuri nikmat sang maha
Kuasa itu. Tidak butuh waktu yang lama untuk menempuh perjalanku kepergian
yang selalu ku tunda - tunda , terlalu egois memang tak menyempatkan waktu
untuk menemuinya, setelah detik - detik yang sangat sulit dijalani olehnya,
mengalami kritis selama seminggu lebih karena penyakit yang tiba - tiba menghampirinya, dan tentunya keadaan ini yang sangat tidak diinginkannya.
Dulu
dia begitu tegap, begitu sigap, sayangnya dia terlalu cepat menerima kenyataan
yang pahit ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dicintainya membuatnya sedikit
rapuh, dan aku yakin dia sangat berharap pada suaminya untuk mendampinginya
sampai masa tuanya , tetapi Tuhan berkata lain, diusia pernikahan yang masih
muda dia harus menelan kenyataan pahit ditinggal oleh suami yang sangat
dikasihinya, ayah dari anak – anaknya.
Waktu demi waktu yang terus bergulir dengan
tangannya dia membesarkan anak – anak yang berjumlah 7 orang, dan tentu
semuanya itu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan yang selalu menopangnya
dan keluarganya,,dulu dia kelihatan sangat kuat, pekerjaan yang seharusnya
dilakukan oleh seorang laki – laki, tak segan ia lakukan semua demi malaikat –
malaikat kecil yang Tuhan amanatkan kepadanya, mungkin dialah wanita tangguh
kedua yang pernah kukenal setelah ibuku.
Malam itu akhirnya aku bertemu lagi dengannya
setelah beberapa lama tidak pernah bertemu, dan pada hari sabtu malam aku
berangkat dari Bandung menuju kota Karawang dan akhirnya malam itu aku tiba
disebuah rumah yang tidak asing bagiku, rumah anaknya yang paling tua, aku
sengaja masuk tanpa pamit aku segera menemuinya wanita itu, sepertinya dia
tidak begitu mengenaliku karena dia sedang asyik menikmati suguhan televisi,
aku tersenyum padanya, dia melihatku dan memelukku seraya menangis, aku
berusaha tertawa sambil menahan airmataku.
Dan yang paling membuatku
terpukul setelah mengetahui bahwa sakit yang dialaminya membuatnya sulit untuk
berbicara, aku tidak tau harus bagaimana, terkadang dia mencoba mengajakku
berbicara tetapi aku sedikit kesulitan mengerti apa yang dia bicarakan seolah
tidak mau menyinggung perasaaanya, aku mencoba memahami karena aku sangat
yakin hatinya berbicara. Dulu waktu aku masih kecil kalau bertemu dengannya
kita bicara banyak, tapi sekarang aku tidak bisa menikmati masa - masa itu lagi, dia hanya tersenyum dan
tertawa, setidaknya itulah bahasa yang aku bisa mengerti darinya, “bahasa kasih “
seorang wanita tulus untuk anak – anaknya.
Kini diapun semakin dimakan
usia, kekuatanya sudah berkurang, bahu yang dulu tegap kini mulai tampak lemah,
yang tersisa hanyalah harapannya, kekuatanya adalah anak –anaknya, ditambah
dengan kehadiran pahoppu ( sebutan
cucu untuk suku batak) yang menjadi pelengkap sukacitanya saat ini, meski sudah
kelihatan dimakan usia tapi dia tetap jelita, dan aku terlalu percaya dan
sangat yakin kalau Tuhan pasti menyempurnakan kesehatannya karena dia punya
alasan untuk tetap bertahan untuk menikmati semua keindahan hidup dimasa
tuanya, yaitu anak dan cucu – cucu nya.
Dedicated just for you bou,,we love you
![]() | |||||||||
| S. Pangaribuan |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar