Lengan kanan Ibu adalah guling istirahat saya
ketika kecil. Ibu bernyanyi tanpa sumbang untuk mengantar anak yang
penakut ini tidur. Sukar, nyaris mustahil bila ada niatan mencari sentuh
selembutnya, suara seindahnya dan air mata yang mampu memantik cemas.
Beliau teristimewa.
Suara pelan ditiap obrolannya dengan Tuhan adalah lampu kuning bagi
saya agar jangan mengecewakan. Wajar dan tentu sesekali suara keras jadi
wajah peringatan bila ada kesalahan. Semua demi kebaikan dan jamin
selamat buah hatinya yang tumbuh kini lebih besar. Beliau terutama.
Senyum bila mendapati di layar telepon genggam ada namanya diiring dering. Saya rindu. Berdebar bila dering itu tiba dikala sadar salah, dipikul anaknya yang kini sudah mau tak mau harus dewasa. Beliau tercinta.
Halo Ibu, terima kasih ya. Bukan sekedar saya tidak terlahir tanpa perjuanganmu sebelumnya. Tapi lebih kepada sabarnya hati dan tidak putusnya doa untuk anak kecilmu yang kini sudah jauh lebih berani.
Saya sayang sekali. Saya yakin Ibu pasti rasa. Semoga beliau berbahagia selamanya.
![]() |
| Ibuku,,HIDUPku |
Senyum bila mendapati di layar telepon genggam ada namanya diiring dering. Saya rindu. Berdebar bila dering itu tiba dikala sadar salah, dipikul anaknya yang kini sudah mau tak mau harus dewasa. Beliau tercinta.
Halo Ibu, terima kasih ya. Bukan sekedar saya tidak terlahir tanpa perjuanganmu sebelumnya. Tapi lebih kepada sabarnya hati dan tidak putusnya doa untuk anak kecilmu yang kini sudah jauh lebih berani.
Saya sayang sekali. Saya yakin Ibu pasti rasa. Semoga beliau berbahagia selamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar